Skip to content Skip to footer

Pekerja PLN Nusantara Power Perkuat Kemampuan Komunikasi Digital

Perjuangan yang tidak dituliskan akan mudah dilupakan. Aspirasi yang tidak dikomunikasikan dengan baik dapat kehilangan kekuatannya. Karena itu, di tengah derasnya arus informasi digital, serikat pekerja tidak cukup hanya memiliki gagasan dan agenda perjuangan. Serikat juga harus mampu mengolahnya menjadi pesan yang kuat, akurat, dan dipercaya publik.

Kesadaran inilah yang melandasi penyelenggaraan Program Penguatan Digital Communication dan Media Serikat Pekerja PT PLN Nusantara Power, yang berlangsung selama dua hari, pada 1–2 September 2026. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis, mengelola informasi, membangun hubungan dengan media, serta mengoperasikan kanal digital organisasi secara profesional.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi dari Kahar S. Cahyono, praktisi media yang aktif berkecimpung dalam isu serikat pekerja. Kegiatan diawali dengan orientasi, pemetaan tantangan media serikat pekerja, penyamaan tujuan, serta pengenalan kebutuhan komunikasi organisasi di era digital.

Dalam sesi penulisan, peserta tidak hanya diajak memahami teknik menyusun kalimat. Mereka mempelajari bagaimana menentukan audiens, merumuskan tujuan komunikasi, memilih sudut pandang, menyusun pesan utama, menciptakan hook yang menarik, serta menutup tulisan dengan ajakan bertindak atau call to action yang tepat.

Kemampuan tersebut sangat penting karena satu isu yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda, tergantung bagaimana isu itu disampaikan. Informasi mengenai kegiatan organisasi, advokasi anggota, perundingan, maupun persoalan ketenagakerjaan harus diolah menjadi narasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan substansi.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai jurnalisme dan hubungan masyarakat. Peserta mempelajari nilai berita, unsur 5W+1H, struktur penulisan berita, penggunaan kutipan langsung dan tidak langsung, verifikasi informasi, etika pemberitaan, penyusunan artikel, hingga hubungan dengan wartawan dan media massa.

Aspek verifikasi dan etika mendapatkan perhatian penting. Di tengah persaingan menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan informasi, media serikat pekerja tetap harus mengutamakan ketepatan. Kesalahan nama, angka, jabatan, waktu, maupun konteks dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap organisasi. Karena itu, setiap informasi harus diperiksa sebelum diterbitkan.

Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Melalui simulasi newsroom dan public relations, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk mengolah bahan mentah menjadi berita. Mereka juga berlatih menyusun pesan-pesan kunci serta menghadapi simulasi tanya jawab dengan media.

Pada sesi praktik, peserta mengubah isu dan kegiatan serikat pekerja menjadi caption media sosial. Tulisan tersebut kemudian ditinjau bersama melalui proses peer review, penyuntingan, dan perbaikan sebelum dinilai layak diterbitkan. Metode ini memberi pengalaman langsung mengenai bagaimana sebuah informasi bergerak dari bahan awal, masuk ke ruang redaksi, diperiksa, lalu disampaikan kepada publik.

Hari kedua diarahkan pada penguatan kemampuan teknis pengelolaan website organisasi. Materi disampaikan oleh Johan Ferdian, Digital Product Designer, dengan fokus pada penggunaan dan pengelolaan WordPress untuk laman spnusantarapower.org.

Peserta diperkenalkan dengan struktur dasbor WordPress, profil pengguna, navigasi situs, serta perbedaan kewenangan antara Admin dan Author. Selanjutnya, mereka mempelajari pengelolaan halaman dan pos, penggunaan kategori dan tag, Media Library, menu navigasi, widget, serta praktik menerbitkan konten.

Aspek sistem dan keamanan juga menjadi bagian penting. Peserta dibekali pemahaman mengenai manajemen pengguna, pembagian hak akses, pengaturan plugin dan tema, SEO dasar, keamanan akun, pembaruan sistem, serta pencadangan situs. Sementara itu, peserta dengan peran Author dilatih membuat dan menyunting tulisan, mengatur gambar, menentukan kategori, serta mengikuti alur pengajuan, peninjauan, hingga penerbitan konten.

Program ini menegaskan bahwa media serikat pekerja bukan sekadar tempat mengunggah dokumentasi kegiatan. Media organisasi merupakan alat pendidikan, penyampai aspirasi, pembentuk opini, sekaligus jembatan komunikasi antara pengurus, anggota, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Melalui penguatan kemampuan menulis, jurnalisme, hubungan media, dan pengelolaan website, Serikat Pekerja PT PLN Nusantara Power sedang membangun fondasi komunikasi yang lebih kuat. Harapannya, setiap kegiatan dapat terdokumentasi, setiap aspirasi tersampaikan, dan setiap perjuangan anggota memperoleh ruang yang layak dalam percakapan publik.

Sebab pada akhirnya, perjuangan yang besar membutuhkan narasi yang kuat. Ketika serikat pekerja mampu mengelola medianya sendiri secara profesional, serikat tidak lagi hanya menjadi objek pemberitaan, tetapi tampil sebagai sumber informasi yang kredibel dan penentu arah narasi.

Di tengah arus informasi yang bergerak dalam hitungan detik, serikat pekerja tidak boleh membiarkan isu berkembang tanpa arah. Pesan yang terlambat, rumit, atau tidak berbasis data dapat melemahkan perjuangan dan merusak kepercayaan anggota. Ini menjadi pokok materi Kahar S. Cahyono dalam sesi siang hari kedua Pelatihan Penguatan Digital Communication dan Media Serikat Pekerja PT PLN Nusantara Power di Surabaya, 2 September 2026. Mengangkat tema manajemen isu dan krisis komunikasi, Kahar menjelaskan bahwa tim media harus menyatu dengan gerak organisasi, advokasi, pendidikan, penelitian, kesejahteraan, dan kebijakan publik.

Peserta diperkenalkan pada konsep Rumah Pesan. Atap berisi pesan utama, pilar menjelaskan pendekatan, sedangkan fondasi terdiri atas fakta dan data. Satu isu dapat disampaikan melalui kisah personal, ketidakadilan sistemik, serta visi perubahan. Dengan kerangka ini, pesan menjadi sederhana, emosional, mudah diingat, tetapi tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Berbagai contoh respons komunikasi perusahaan besar juga dibedah untuk menunjukkan pentingnya kecepatan, empati, ketepatan, dan konsistensi ketika menghadapi kritik publik. Kesalahan merespons dapat memperbesar krisis, sedangkan respons yang tepat mampu memulihkan kepercayaan.

Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu mengelola isu secara strategis, menjaga reputasi organisasi, memperkuat solidaritas, dan memastikan suara buruh tidak tenggelam. Sebab media bukan hanya alat menyampaikan berita, melainkan senjata untuk membuat perjuangan terdengar lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Public Services International - Indonesia Project

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca