Skip to content Skip to footer

Membangun Kepemimpinan Pekerja Muda untuk Mendorong Keadilan Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan

Jakarta, 25-26 Juni 2026 – Percepatan transisi energi di Indonesia menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia ketenagakerjaan. Di satu sisi, transisi menuju energi rendah karbon menjadi langkah penting dalam menghadapi krisis iklim. Di sisi lain, proses tersebut harus memastikan tidak ada pekerja maupun masyarakat yang tertinggal. Berangkat dari semangat tersebut, Public Services International (PSI) menyelenggarakan Workshop Organising Young Workers for Climate Justice pada 25–26 Juni 2026 di Jakarta. Workshop ini diikuti oleh pekerja muda dari berbagai serikat pekerja afiliasi PSI sebagai bagian dari implementasi program regional Organising for Climate Justice in Asia Pacific.

Selain orang muda hadir juga para ketua umum, sekretaris jenderal dan wakil dari DPP serikat pekerja afiliasi PSI untuk mendukung pelaksanan program kegiatan ini di Indonesia. Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Indah Budiarti, PSI Southeast Asia Acting Sub-regional Secretary, mengenai visi dan arah program Organising Young Workers for Climate Justice di Asia Pacific. Kemudian dilanjutkan oleh Nico Forteza selaku project coordinator, yang menjelaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara prioritas karena memiliki posisi strategis dalam agenda transisi energi global. Menurutnya, pekerja muda memiliki peran penting sebagai generasi yang akan menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjadi motor penggerak perubahan di dalam serikat pekerja.


Melalui program ini, PSI menargetkan penguatan kapasitas para organizer muda, untuk memimpin kampanye keadilan iklim di organisasi masing-masing. Program ini juga mendorong pembentukan Climate Committee di lingkungan serikat pekerja, pengembangan riset partisipatif, penyusunan materi kampanye berbasis bukti, serta pelibatan sedikitnya 100 pekerja muda dalam kegiatan pendidikan, pengorganisasian, dan advokasi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi serikat pekerja dalam mendorong transisi energi yang demokratis, inklusif, dan berkeadilan.


Setelah memperoleh gambaran mengenai arah program, peserta mengikuti sesi Keadilan Iklim, Demokrasi Energi, dan Transisi Energi Berkeadilan yang difasilitasi oleh Meliana Lumbantoruan. Sesi ini mengajak peserta melihat bahwa krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan perubahan lingkungan, tetapi juga erat kaitannya dengan persoalan ketimpangan dan keadilan sosial. Kelompok pekerja, masyarakat, petani, serta kelompok rentan merupakan pihak yang paling terdampak, meskipun bukan penyumbang utama emisi karbon.


Diskusi juga menyoroti pentingnya demokrasi energi, yaitu memastikan masyarakat dan pekerja memiliki ruang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan energi. Transisi energi yang berkeadilan bukan sekadar mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan, tetapi juga memastikan terciptanya pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, peningkatan keterampilan (reskilling), serta partisipasi serikat pekerja dalam setiap proses penyusunan kebijakan. Melalui berbagai studi kasus, peserta diajak melihat bagaimana pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi juga sangat ditentukan oleh keterlibatan pekerja dan organisasi serikat.
Perspektif tersebut kemudian diperdalam oleh Widhiyanto Muttaqien Ahmad dari Perkumpulan Creata yang membahas strategi membangun jejaring dan mobilisasi gerakan. Ia menekankan bahwa serikat pekerja perlu memperkuat solidaritas lintas sektor dan membangun kekuatan kolektif agar mampu memengaruhi kebijakan publik. Menurutnya, advokasi yang efektif lahir dari organisasi yang kuat, jejaring yang luas, serta kemampuan membangun dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.


Pada hari kedua, peserta memperoleh pembekalan mengenai strategi komunikasi publik dan kampanye digital dari Zakki Amali, Manager Riset Trend Asia, dan Bambang Nurjaman, Media Expert UNDP Indonesia. Mereka menekankan bahwa media sosial kini menjadi instrumen penting dalam gerakan serikat pekerja, bukan hanya untuk mendokumentasikan kegiatan, tetapi juga untuk membangun opini publik, menyampaikan pesan berbasis data, serta menggerakkan partisipasi masyarakat. Peserta diajak menyusun narasi kampanye yang sederhana, relevan, dan mudah dipahami sehingga mampu memperluas dukungan terhadap agenda keadilan iklim dan transisi energi yang berpihak kepada pekerja.


Seluruh proses workshop difasilitasi oleh SRI Institute dengan pendekatan partisipatif yang mendorong peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta menyusun rencana aksi bersama. Pendekatan ini membantu peserta menerjemahkan berbagai materi yang diperoleh ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di organisasi masing-masing.
Sebagai penutup, para peserta menyusun way forward yang akan menjadi panduan implementasi program di Indonesia. Rencana tersebut mencakup pengorganisasian pekerja muda di tingkat serikat, pengembangan kampanye publik, hingga advokasi kebijakan berbasis riset. Melalui rangkaian kegiatan ini, PSI berharap lahir generasi baru pemimpin serikat pekerja yang mampu memastikan transisi energi tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga menghadirkan keadilan bagi pekerja, masyarakat, dan generasi mendatang. ##

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Public Services International - Indonesia Project

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca