Skip to content Skip to footer

Menggali Makna KILO 190 dan Rekomendasi ILO 206: Sinergi Perempuan dalam Perjuangan Melawan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja

Bayangkan dunia kerja sebagai sebuah rumah besar yang harus aman bagi setiap penghuninya. Namun, tanpa fondasi pemahaman yang kuat mengenai hak dan perlindungan, rumah ini rentan terhadap ancaman yang tak terlihat. Pertemuan para pemimpin perempuan dari berbagai serikat pekerja hadir untuk memperkuat fondasi ini, memastikan dunia kerja bebas dari kekerasan dan pelecehan.

“Pelecehan berbasis gender menghancurkan kepercayaan diri dan kesehatan mental,” ujar Aidini Hana Aprina dari SP PLN Persero, menegaskan pentingnya menghapus kekerasan dan pelecehan di dunia kerja sebagai langkah mendasar untuk melindungi martabat dan hak pekerja perempuan. Andini menyampaikan ini dalam pertemuan antar serikat pekerja dan pemimpin perempuan bertema Membaca Kritis KILO 190: Rekomendasi ILO 206 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di dunia Kerja

Ibarat mengurai simpul-simpul ketidakadilan yang lama mengakar, pertemuan selama dua hari pada 1-2 November di Jakarta ini menjadi ajang bagi 39 pemimpin perempuan dari berbagai serikat pekerja untuk bersama-sama membaca kritis Konvensi ILO-190 dan Rekomendasi ILO-206. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Public Services International (PSI) dengan dukungan SASK dan Mondiaal FNV ini diikuti oleh berbagai afiliasi PSI (FSP FARKES Reformasi, SP PLN Persero dan SP PJB) IUF (Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM)), ITF (Federasi Serikat Pekerja Bandara Indonesia (FSPBI), IKAGI, SP Kereta Api (SP KA), dan SP DT-FSPMI PUK Trans Jakarta) IFJ (SINDIKASI dan Aliansi Jurnalis Independent (AJI)), IndustriAll (SPEE-FSPMI, FSPKEP-SPSI, FSPKEP-KSPI. SPN-KSPI, F-Lomenik) serta perwakilan dari sektor perkebunan Aliansi Serbusaka dan Federasi Serbundo.

Tujuannya jelas: memahami secara mendalam pentingnya penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, serta membangun dukungan untuk ratifikasi Konvensi ILO-190 di Indonesia.

Rita Tambunan, Consultant Mondiaal FNV untuk Gender mengungkapkan dalam kata pembukanya menegaskan bahwa workshop membaca kritis ini bukan sekadar mengenali pasal-pasal, namun memahami konteksnya.

“Pada kegiatan ini, kita mengkaji konvensi dengan mendetail – setiap paragraf, setiap topik – menguraikan maknanya, karena banyak hal yang terpendam dalam teks ini yang membutuhkan pemahaman mendalam agar kita mampu memperjuangkannya dengan efektif,” tuturnya.

Dipandu oleh Izzah Inzamliyah, Program Officer Solidarity Center (SolCen) Indonesia dan Ira Laila, FSPKEP-SPSI, kegiatan workshop diawali dengan memperdalam pemahaman mengenai konsep kesetaraan gender dan berbagai bentuk tindak kekerasan dan pelecehan di ruang publik dan dunia kerja. Sesi ini berlangsung dalam suasana diskusi yang intens namun penuh keakraban, dengan peserta yang saling berbagi perspektif dan pengalaman. Setiap paragraf dalam Konvensi ILO-190 dan Rekomendasi 206 dikupas dengan teliti, mengangkat definisi yang jauh lebih luas tentang kekerasan dan pelecehan dibandingkan norma-norma yang sudah ada di masyarakat.

Tujuan dan Harapan untuk Penghapusan Kekerasan di Dunia Kerja

Indah Budiarti dari Public Services International (PSI) menyampaikan tiga tujuan besar dari pertemuan ini. Pertama, membangun kekuatan kolektif antar serikat pekerja perempuan untuk memperjuangkan ratifikasi Konvensi ILO-190 di Indonesia. Kedua, mendorong para pemimpin perempuan untuk aktif menggunakan dokumen ini sebagai alat dalam serikat mereka, sehingga mereka dapat terlibat dalam mendorong penghapusan kekerasan di tempat kerja dengan perspektif yang berfokus pada kesetaraan gender. Ketiga, membentuk aksi nyata dan kerja kolaboratif yang strategis antar serikat pekerja dalam kampanye penghapusan kekerasan dan pelecehan.

Menurut Aidini Hana Aprina, kekerasan berbasis gender adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia yang sering kali menargetkan perempuan. “Kita perlu mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman dan setara,” ujarnya. “Pelecehan yang menargetkan perempuan merusak integritas personal dan profesional mereka, sehingga ini harus dihentikan agar kita bisa membangun kesetaraan.”

Kegiatan ini juga mendapatkan tanggapan positif dari peserta lainnya, termasuk Ira Laila yang berperan sebagai fasilitator. Menurut Ira, pendekatan membaca kritis ini sangat berbeda dari pelatihan-pelatihan sebelumnya, yang biasanya hanya menyajikan materi tanpa meneliti setiap bagian konvensi secara rinci.

“Sangat berkesan karena konvensi ini mencakup definisi yang sangat luas tentang kekerasan dan pelecehan, yang sering kali tidak terlihat pada norma sehari-hari. Pendekatan ini membuat kita lebih memahami konvensi dan rekomendasinya secara menyeluruh,” ujarnya.

Pada akhir sesi, para peserta bersama membuat rencana tindak lanjut agar pembacaan kritis ini tidak hanya diikuti oleh pemimpin perempuan, namun juga melibatkan pemimpin laki-laki dari serikat pekerja. Dukungan penuh dari seluruh pemimpin serikat pekerja sangat diharapkan agar upaya untuk ratifikasi Konvensi ILO-190 dapat diwujudkan di Indonesia, menciptakan dunia kerja yang benar-benar aman dan inklusif bagi semua pekerja.

Pertemuan ini berhasil mengangkat pentingnya keberanian dan suara kolektif pekerja perempuan dalam melawan kekerasan di tempat kerja. Melalui kegiatan membaca kritis ini, para pemimpin perempuan serikat pekerja tidak hanya memperkuat pemahaman mereka, tetapi juga memulai sebuah langkah konkret menuju dunia kerja yang lebih adil dan aman. Mereka mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi konvensi ini.

“Konvensi ini menyatukan definisi kekerasan dan pelecehan menjadi konsep tunggal, sehingga memberikan perlindungan yang lebih kuat dengan diratifikasi konvensi ini,” tegas Jacqueline Tuwanakota, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Bandara Indonesia (FSPBI). “Ayo teman-teman pekerja, bersama kita desak dan tuntut pemerintah untuk ratifikasi Konvensi ILO 190 ini!,” ujarnya dalam sesi akhir workshop ini.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Public Services International - Indonesia Project

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca