Skip to content Skip to footer

Mendorong Percepatan PKB melalui Kolaborasi Strategis SPEE FSPMI dan SERBUK Indonesia di PT Haleyora Powerindo

Serikat Pekerja Kelistrikan di PT Haleyora Powerindo mengadakan pertemuan kolaborasi untuk memperkuat solidaritas dan meningkatkan pengaruh serikat pekerja di Yogjakarta pada tanggal 16 hingga 17 Mei 2024. Kolaborasi ini melibatkan SPEE FSPMI dan Serbuk Indonesia untuk membahas dan menyusun strategi bersama dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang.

Fokus utama dari pertemuan ini adalah untuk merajut kerjasama yang lebih kuat antara SPEE FSPMI dan SERBUK Indonesia. Di mana kolaborasi ini diharapkan bisa mendorong percepatan penambahan anggota di masing-masing SBA dan PUK. Penambahan anggota ini sangat penting, untuk meningkatkan representasi keterwakilam pekerja dan memberikan mandat yang lebih kuat dalam perundingan.

Selain itu, pertemuan ini juga bertujuan untuk menyusun rencana pengorganisasian yang sistematis dan mobilisasi anggota serikat yang efektif. Hal ini mencakup pembahasan strategi untuk menghadapi tantangan saat ini dan mendatang, serta persiapan proyeksi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang akan dibahas bersama antara SPEE dan SERBUK Indonesia.

Sekretaris Umum SPEE FSPMI Slamet Riyadi menyampaikan, masih banyak pekerja yang belum memahami kedudukan perusahaan secara jelas. Banyak di antara mereka beranggapan bahwa mereka adalah pekerja PT Haleyora Power (PT HP) karena seragam kerja, name tag, dan gaji yang diterima dari PT HP.  “Namun, kenyataannya PT HP adalah anak perusahaan PT PLN yang memiliki kontrak kerjasama dengan PT PLN, sedangkan PT Haleyora Powerindo (PT HPI) adalah pelaksana operasional dari PT HP,” ujar slamet.

Posisi pekerja Tenaga Alih Daya (TAD) saat ini berada di bawah Perjanjian Kerja dengan PT HPI. Ini menimbulkan tantangan berat dalam advokasi kebijakan untuk peningkatan kesejahteraan pekerja, karena harus ‘melawan’ kebijakan pada empat level yang berbeda: Kebijakan dari PT Haleyora Powerindo, PT Haleyora Power, PT PLN, serta kebijakan negara yang meliputi undang-undang dan regulasi yang diterapkan oleh Kementerian BUMN.

“Menghadapi kompleksitas ini, penentuan strategi advokasi harus tepat sasaran agar perjuangan yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Penting bagi kita untuk memahami posisi dan kedudukan kita dalam struktur perusahaan ini. Dalam menentukan langkah strategis menuju perjuangan PKB dengan manajemen PT HPI, tidak bisa diabaikan kebijakan yang ada di PT HP sebagai induk perusahaan PT HPI,” tegasnya.

Senada dengan Slamet, Ketua Umum SERBUK Indonesia, Adi Pratomo juga menekankan pentingnya pertemuan ini dalam konteks perluasan keanggotaan serikat. “Acara ini menjadi momen penting untuk mensinergikan dan mengkonkretkan langkah bersama dalam pertumbuhan keanggotaan. Banyak ancaman yang dihadapi oleh kawan-kawan TAD PLN. Maka ini sudah seharusnya menjadi acuan kita untuk bergandengan tangan, sudah saatnya kita bahu membahu dan terus berkolaborasi. Terkhusus karena SPEE dan SERBUK juga mengorganisir teman-teman di ketenagalistrikan, tujuannya adalah membuat PKB karena dengan PKB yang bagus kesejahteraan, kepastian kerja dan jaminan sosial anggota menjadi lebih terjamin,” ujar Adi.

Kolaborasi yang diinisiasi oleh SPEE dan SERBUK ini diharapkan tidak hanya akan meningkatkan anggota serikat, tetapi juga secara signifikan akan menguatkan posisi mereka dalam negosiasi dengan manajemen, sehingga menciptakan kondisi kerja yang lebih adil dan menguntungkan bagi semua pekerja di PT HPI. Salah satu ide yang diusulkan Slamet Riyadi adalah menciptakan ‘PKB Turunan’ dari PT HP yang bisa diadopsi oleh PT HPI.

Menanggapi hal itu, Indah Budiarti selaku PSI SEA Communications & Project Coordinator menyampaikan, bahwa dalam hukum ketenagakerjaan Indonesia tidak diakui adanya istilah ‘PKB Turunan’. Namun, yang memungkinkan adalah adopsi PKB dari perusahaan induk untuk diberlakukan juga di perusahaan turunannya. Namun demikian, langkah ini memerlukan penguatan kekuatan serikat pekerja (nilai tawar) di hadapan manajemen.

“Dengan memperkuat posisi tawar, diharapkan proses diplomasi yang dilakukan oleh serikat pekerja untuk mendorong segeranya perundingan PKB dapat terwujud lebih efektif. Hal ini menjadi strategi penting dalam upaya memastikan bahwa hak dan kesejahteraan pekerja di perusahaan turunan tetap terlindungi sebagaimana di perusahaan induk,” ujarnya.

Pentingnya untuk menegaskan pentingnya memperjelas posisi pekerja sebagai anggota PT HPI dalam memperkuat proses pengorganisasian juga ditegaskan Sumarno dari SPL Klaten. Sedangkan Bayu Prastyanto Ibrahim dari SPEE HPI DKI Jakarta menyarankan pentingnya konsolidasi antar serikat pekerja untuk membuktikan kekuatan kolektif guna menunjukkan bahwa serikat pekerja benar-benar memperjuangkan kepentingan anggotanya.

Di sesi yang lain, Suherman dari SPEE FSPMI memaparkan analisis SWOT sebagai alat strategis penting dalam pertemuan terakhir yang fokus pada pengorganisasian serikat pekerja di PT HPI. Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam upaya pengorganisasian serikat pekerja, yang krusial dalam merumuskan strategi yang efektif dan responsif terhadap kondisi terkini.

Suherman menjelaskan bahwa analisis SWOT melibatkan evaluasi dari dua dimensi: faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman). Kekuatan dan peluang diidentifikasi sebagai faktor yang dapat membantu serikat pekerja mencapai tujuannya, sedangkan kelemahan dan ancaman dikenali sebagai hambatan yang perlu diatasi.

Dari analisis ini, diharapkan muncul rekomendasi yang mengarah pada formulasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret. RTL ini harus dapat diimplementasikan oleh masing-masing serikat untuk memastikan bahwa upaya pengorganisasian tidak hanya efektif tetapi juga adaptif terhadap dinamika yang berubah.

Dalam sesi presentasi terkait strategi dan taktik pengorganisasian Serikat Pekerja di PT Haleyora Powerindo, Sumarno dari SERBUK Indonesia dan Mohamad Machbub dari Ketua PUK Nasional SPEE FSPMI PT HPI membagikan pengalaman dan strategi mereka dalam pengorganisasian serikat pekerja di PT Haleyora Powerindo (PT HPI), dengan fokus khusus pada tantangan dan keberhasilan yang telah mereka capai.

Sumarno berbagi tentang kesulitannya dalam mengorganisir Tenaga Alih Daya (TAD) di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Dia mengungkapkan bahwa perluasan anggota serikat pekerja di Jawa Timur terhambat oleh jarak yang jauh dan intimidasi yang dilakukan oleh manajemen terhadap pekerja TAD. Hal ini mengakibatkan proses pembentukan serikat pekerja berlangsung sangat lambat, diperparah oleh minimnya informasi yang tersedia bagi pekerja TAD mengenai serikat pekerja.

Sementara itu, Machbub membahas perubahan regulasi yang mempengaruhi Billman, termasuk implementasi Peraturan Pelaksana (PERLAK 055) oleh PLN sejak Desember 2023, yang mengubah status kerja dari TAD menjadi pekerja borongan. Perubahan ini meningkatkan beban kerja Billman tetapi menurunkan kesejahteraan mereka. Machbub menekankan pentingnya meningkatkan keanggotaan serikat untuk memperkuat posisi dalam negosiasi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan PT HPI.

Machbub juga menjelaskan strategi SPEE-FSPMI dalam merawat dan memperkuat PUK yang ada serta menggencarkan perluasan keanggotaan. Ini dilakukan melalui beberapa Langkah, seperti penguatan internal meliputi peningkatan densitas keanggotaan, pendidikan rutin untuk peningkatan SDM, dan pembentukan kepengurusan yang efektif. Kampanye keanggotaan dengan menggunakan pamphlet dan poster untuk menjaring anggota baru, yang terbukti efektif dengan respons positif dari pekerja dan memanfaatkan isu man momentum, seperti THR, regulasi terkait Volume Based, dan perubahan-perubahan regulasi lain untuk menggugah kesadaran dan mendukung perjuangan serikat.

Hal penting yang perlu dicatat, bahwa komitmen bersama antara SPEE dan SERBUK merupakan langkah strategis untuk menyelaraskan upaya pengorganisasian serikat pekerja di PT Haleyora Powerindo. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat koordinasi dan kerjasama antar-serikat dalam mencapai target penambahan anggota yang signifikan dan mempercepat pembentukan PKB.

Dalam kerangka kerjasama ini, kedua serikat pekerja berkomitmen untuk berbagi sumber daya, strategi, dan informasi, guna memastikan bahwa setiap langkah dalam proses pengorganisasian dilakukan secara efisien dan efektif. Fokus utamanya adalah pada meningkatkan kesadaran dan keberanian pekerja untuk bergabung dengan serikat, yang diperkirakan akan memperkuat posisi negosiasi serikat pekerja dalam perundingan PKB.

Pengembangan ini juga menargetkan peningkatan perlindungan dan perbaikan kondisi kerja para pekerja PT HPI, serta memastikan bahwa hak-hak mereka terjamin. Kita percaya, komitmen bersama ini tidak hanya menguntungkan para pekerja, tetapi juga menjamin stabilitas dan produktivitas jangka panjang untuk PT HPI melalui hubungan industrial yang lebih harmonis.

Pentingnya Dukungan SP PLN Persero

Solidaritas antarserikat menjadi kunci penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Oleh karena itu, apa yang diperjuangkan SPEE dan SERBUK perlu mendapatkan dukungan dari Serikat Pekerja PT PLN Persero (SP PLN) yang saat ini sudah memiliki kekuatan anggota yang banyak dan posisi tawar yang tinggi, yang menjadi fondasi kokoh dalam advokasi dan negosiasi

Di bawah kepemimpinan Muhammad Abrar Ali, SP PLN Persero telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung SERBUK dan SPEE. Ini menandakan pemahaman mendalam tentang pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan.

“SP PLN Persero bukan hanya sekedar pemberi dukungan, tetapi juga pendorong utama dalam mewujudkan kesejahteraan pekerja. Kepemimpinan Pak Abrar dalam memberikan dukungan adalah bukti nyata dari solidaritas yang dibangun atas dasar kepentingan bersama,” ujar Adi Pratomo.

Slamet Riyadi menambahkan, “Sejauh ini SPEE dan SERBUK telah mendapatkan bantuan dari pengembangan organisasi di daerah dari SP PLN Persero yang memungkinkan kami meningkatkan kapasitas organisasi. Di samping itu, kami juga berharap SP PLN Persero bisa mendukung terwujudnya PKB di PT HPI.”

Pengakuan serupa juga datang dari Sumarno, yang menyatakan, “Dukungan SP PLN sangat berarti, tidak hanya dalam aspek materil tapi juga dalam peningkatan kapasitas dan advokasi kebijakan.” Machbub mengamini pendapat tersebut dengan mengatakan, “Kami sangat berterima kasih kepada SP PLN dan Pak Abrar atas dukungan yang diberikan. Ini membuka banyak peluang bagi kami untuk lebih berkembang dan berkontribusi secara lebih efektif dalam perlindungan pekerja.”

Kolaborasi SP PLN Persero dengan SERBUK dan SPEE HPI ini merupakan contoh nyata dari bagaimana solidaritas dan kolaborasi dapat membawa perubahan positif. Ini menunjukkan bahwa dalam kesatuan ada kekuatan, dan dalam kerja sama ada kemajuan. Ke depan, sinergi ini diharapkan akan terus berkembang sehingga para pekerja bisa mendapatkan kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Public Services International - Indonesia Project

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca